Make your own free website on Tripod.com
Laporan FKPAB

GUNUNG KERINCI ( 3.805 MDPL )

 

 

Dalam edisi pendakian di akhir bulan RUWAH seminggu sebelum bulan ROMADHON, Team Forum Komunikasi Pencinta Alam Se-Bekasi, dari grup pencinta alam asal setu yaitu RAMPASPALA mengadakan suatu pendakian di pulau sumatra tepatnya digunung kerinci dimana penduduk sekitar menyebutkan Gunung Berapi. Keberangkatan team dimulai dari kabupaten Bekasi Daerah setu dengan satu ikrar bersatu dalam pendakian untuk memupuk persaudaraan sesama pencinta alam tepatnya pada tanggal 23 oktober 2002.

 

Team terdiri dari 4 personil yaitu :

  1. Muhammad Gafar ( Mamo ) sebagai koodinator pendakian
  2. Muhammad Irsan sebagai penanggung jawab peralatan
  3. Ismail sebagai anggota

4.      Nain sebagai anggota

 

Perjalanan ke kerinci kami mulai dari Cawang Jakarta, dengan menggunakan mobil Cahaya Kerinci jurusan Jakarta Sungai Penuh. Tarif pada saat itu sebesar Rp 150.000,- /orang, berangkat jam 14.00 wib hari Rabu tgl. 23 okt 2002 sampai disungai penuh jam 06.00 jumat tgl 25 okt 2002. ( sekitar 40 jam ).

Sesampai di sungai penuh perjalanan diteruskan dengan menggunakan angkutan elep jurusan Sungai Penuh Kayu Aro, turun di Kisik Tuo tepatnya di perempatan Patung Macan, sebelum menuju pos masuk, kami berjalan sekitar + 10 menit dari patung macan menuju ke penginapan Bu Darni yang merupakan losmen di perkampungan penduduk untuk melepaskan lelah serta mempersiapkan pendakian esok harinya. Dari depan penginapan tersebut terlihat hamparan kebun tea yang luas dengan dilatar belakangi oleh Gunung Kerinci yang menjulang tinggi dengan gagahnya seakan tak bergeming walau diterpa badai.

 

Pada tanggal 26 okt 2002, perjalanan kami lanjutkan kembali pada pagi hari sekitar jam 07.00, berjalan ke patung macan kembali untuk menuju ke pintu masuk. Jarak antara patung macan dengan pintu masuk jika ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 jam, tetapi kami menyewa ojek yang bayak beroperasi disekitar patung macan dengan ongkos Rp 5000, sampai di pintu masuk memakan waktu 20 menit. Jalan yang dilalui adalah kebun tea yang hijau sehingga kami menghirup udara yang sejuk dan bersih.

Sesampai dipintu masuk kami menjumpai gerbang pintu masuk berwarna putih dan hitam dilatar belakangi bentuk susunan batu. Mulai dari gerbang ini, kami memulai pendakian dan tak lupa kami berkumpul untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt, semoga perjalanan kali ini mendapatkan ridho dari Allah Swt, dan diselamatkan sampai tujuan serta diberikan penerangan batin kami akan kebeseran sang pencipta.

 

Dari pintu masuk kami memulai pendakian pada jam 08.30 wib, dengan latar belakang hutan lebat, kami menikmati pemandangan pohon pohon besar yang jarang kami jumpai di hutan hutan daerah jawa, hewan hewan hutan banyak kami dijumpai pula sepanjang jalan seperti siamang, lutung, dan berbagai macam burung. Sampai Pos I jarak yang kami tempuh sekitar jam berjalan dengan kecepatan sedang dengan kondisi jalan datar.

 

Dari Pos I perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Pos II melewati hutan yang bernama Hutan Rimbo Gano dimana hutan ini satwa satwa liar masih banyak dijumpai seperti ular, harimau, namun mereka mempunyai daerah tertentu dan mereka tidak mau melewati jalan yang sering digunakan oleh pendaki, dihutan ini kami jumpai suatu pemandangan yang belum pernah kami temui yaitu suatu lubang besar ditengah tengah pohon raksasa, dimana besar lubang di pohon tersebut dapat dimasuki oleh 20 orang sekaligus dan menurut cerita para penduduk bahwa lubang ditengah pohon tersebut merupakan pintu gerbang menuju alam gaib, dan kami disarankan untuk tidak mencoba memasuki lubang pohon tersebut. Dan kami sampai di Pos Iipada jam 11.00 atau sekitar 1jam perjalanan.

Pos II adalah pos terakhir kami mendapatkan air minum setelah melalui pos ini sudah tidak tersedia sumber air lagi. Untuk mendapatkan sumber air tersebut kami harus berjalan kearah kiri pos dan melewati jalanan menurun sekitar 15 meter dari pos II. Sumber air tersebut merupakan kubangan air dan menurut cerita penduduk kampung, bahwa air kubangan tersebut merupakan tempat minum para satwa liar seperti harimau hutan.

Kami mengharuskan setiap anggota membawa perbekalan air sebanyak 5 liter, karena perjalanan masih panjang dan kami tidak mau kehabisan air karena cuaca begitu panas dan tidak menutup kemungkinan kami akan lama ditengah Gunung atau bahkan menginap di pertengahan jalan.

 

Perjalanan kami lanjutkan kembali pada jam 10.20 menuju ke Pos III, medan yang kami jumpai adalah batu batuan serta pepohonan kecil yang mampu tumbuh ditanah yang gersang. Jalur yang kami tempuh sudah mulai menanjak / Tracking dengan kemiringan sekitar 60 s/d 65 derajat sehingga perjalanan kami mulai pelan tidak secepat pada waktu di pos I maupun pos II. Sampai di Pos III sekitar jam 12.20 atau 2 jam perjalanan. Kami beristirahat sebentar untuk menikmati pemandangan gunung yang mulai terik, dan kejauhan kami melihat hamparan bukit terjal sampai puncak. Kami melanjutkan perjalanan kembali setelah istirahat selama 40 menit.

 

Jam 15.00 kami telah sampai dipertengahan antara pos III dengan perbatasan jalur yang kami lalui adalah jalur air dan kami harus berhati hati karena medan begitu buruknya serta kabut mulai turun. Kami sering menjumpai awan kuning yang beracun dan setiap awan itu datang, kami selalu menghindar dengan jalan merebahkan badan kami sejajar dengan tanah karena takut menghirup racun tersebut. Kami memutuskan untuk berhenti dan bermalam ditempat itu karena cuaca tidak mendukung untuk melanjutkan pendakian.

 

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah kami semalaman beristirahat diantara pos III dan perbatasan kami perhitungkan bahwa dari pos III ke perbatasan dapat kami tempuh sekitar 5 jam perjalanan dengan jalur air, waktu tersebut akan bertambah jika cuacanya adalah hujan.

 

Pada tanggal 27 Okt 2002 sekitar jam 07.00 perjalanan kami lanjutkan kembali dan sampai di perbatasan sekitar jam 11.00 tetapi kami memutuskan untuk tidak melanjutkan kembali mengingat kabut begitu tebal serta medannya sangat berbahaya yaitu berupa jalur air dengan lekukan yang tajam sehingga untuk melewatinya harus memanjat.

 

Dari perbatasan sudah terlihat puncak gunung kerinci dan kami mencoba mendaki puncak tersebut pada tanggal 28 Okt 2002 sekitar jam 07.00 tanpa membawa perlengkapan, semuanya kami tinggal di perbatasan, yang kami bawa adalah air dan makanan kecil. Kami mempunyai inisiatif meninggalkan perlengkapan kami karena medan yang ditempuh terlalu terjal sehingga akan sangat mengganggu jika harus membawa carier dan disana juga tidak ada pendaki lain selain kami, sehingga keadaan aman tanpa harus kuatir ada yang mengambil perlengkapan kami.

 

Sesampai di Puncak Gunung Kerinci kami dapat melihat disebelah kiri adalah Danau Belibis yang sangat mempesona terlihat dikejauhan, serta disebelah kanan terlihat Danau Gunung Tujuh yang menjulang tinggi tetapi masih dibawah ketinggian Gunung Kerinci yaitu + 3.805 MDPL. Jarak yang kami tempuh dari perbatasan ke puncak adalah 2 jam perjalanan dengan kecepatan pelan karena kondisi medan jalur air.

Cuaca pada saat itu kabut serta terlihat awan beracun berwarna kuning, sehingga kami tidak dapat berlama lama di puncak, kami segera turun ke perbatasan dan segera packing untuk persiapan penurunan Gunung Kerinci. Kami mulai menuruni perbatasan menuju Pintu Rimba pada jam 11.00 siang dengan cara berlari mengingat medannya turun serta beban kami sudah ringan. Kami hanya mempunyai persediaan air 1 liter air sehingga kami harus menghemat serta harus cepat cepat sampai di Pintu Rimba sebelum hari menjelang petang. Ternyata kami sampai di pintu Rimba dalam waktu sangat singkat yaitu 4 jam perjalanan dan kami tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk sampai di Pintu Rimba.

Kami sampai di losmen Bu Darni pada jam 19.00 wib dan kami menengok kembali ke Gunung Kerinci yang baru saja kami daki ternyata kami telah berhasil menaklukan gunung tersebut tetapi kami yakin sekali bahwa kami berhasil mendaki gunung kerinci berkat bimbingan Allah Swt, serta hasil kerjasama team kami yang selalu peduli terhadap keadaan setiap anggota sewaktu dalam perjalanan, bahkan kami sering bergantian membawa carier yang berat tanpa memandang siapa yang mempunyai carier tersebut karena yang terpenting bagi kami adalah kerjasama team untuk sampai di puncak serta kami selalu menjaga agar kekompakan semua anggota dapat menghantarkan untuk meraih sukses bersama. Prinsip kami lebih baik kami tidak sampai di puncak jika harus meninggalkan teman kami ditengah perjalanan, karena menurut kami bahwa meninggalkan teman ditengah perjalanan adalah awal dari suatu kecelakaan pendakian akan terjadi.

Semoga pengalaman kami ini dapat berguna bagi para pendaki gunung yang ingin mendaki Gunung Kerinci.

 

Dan kami mempunyai saran bagi para calon pendaki Gunung Kerinci :

 

  1. Ikuti anjuran para penduduk sekitar Gn. Kerinci seperti jangan memasuki lobang pohon yang berada dilokasi antara pos I dan pos II.
  2. Jangan mengadakan pendakian pada musim hujan, karena jalur yang dipakai adalah jalur air sehingga anda akan kesulitan dalam pendakian serta resiko kecelakaan cukup besar.
  3. Jika akan membuka jalur pendakian yang baru, harus diketahui dahulu mana daerah binatang liar, sehingga anda tidak tersesat di daerah Harimau yang akan merasa terganggu jika anda melewati daerah mereka.
  4. Hindarkan anda menghirup awan yang kekuningan karena anda akan terasa mual serta muntah muntah karena keracunan.
  5. Jangan sekali kali mendirikan tenda dijalur aliran, karena jika terjadi hujan, maka anda akan terbawa arus serta terkena longsor tanah.