Make your own free website on Tripod.com

Are you out of your mind ?

kembali ke halaman awal

ARE YOU OUT OF YOUR MIND ?

 

 

 

            Banyak orang bilang, mendaki gunung adalah salah satu pekerjaan sia-sia yang ada di muka bumi. Bagaimana nggak?, sudah cape-cape naik sampe puncak kok ya terus turun lagi!!. Kayak nggak ada kerjaan kan?.

 

            Sudah resikonya tinggi, peralatannya juga nggak murah lagi!. Bayangkan, satu buah carryl ukuran 100 liter aja paling murah 200 sampai 400 ribuan itu yang merk lokal, sepatu gunung antara 200 sampai 500 ribuan itupun yang standar, belum lagi tenda, yang kapasitas tiga orang aja minimal sudah 600 ribuan lagi-lagi itupun yang standar!!. Belum termasuk peralatan lainnya seperti sleeping bag 100 ribuan, kompor gas portable 100 ribuan, jaket 150 ribuan, kompas, matras, kacamata, binocular, survival knife dan masih banyak lagi

 

            Harga peralatan gunung yang harus dibayar oleh seorang hiker sejati memang sama sekali tidak bisa dibilang murah, tapi hobby dan panggilan hati nurani mengalahkan segalanya, kebanyakan hiker berpengalaman mengatakan harga yang harus dibayar untuk sebuah petualangan seru memang jelas tidak akan bisa murah, tapi hasil yang didapat jelas setimpal dengan harga itu.

 

            Di era kapitalisme global seperti sekarang ini segala hal memang bisa menjadi uang, termasuk juga petualangan yang sebenarnya sangat kental aroma hobbynya, sudah tahukah anda kalau tempat-tempat seperti Himalaya di Nepal, Gaurisangkar di India, bahkan Carstensz Pyramid yang ada di Papua semuanya sudah di komersialkan?, asal tahu aja petualangan memang sudah menjadi sebuah industri yang laku dijual.

 

            Kalau anda pernah melihat film Vertical Limit yang dibintangi Chris O` Donnel, anda pasti dapat mengira dan mengukur sejauh mana kemahalan harga yang harus dibayar untuk sebuah petualangan yang seru.

 

            Sebagai gambaran, untuk tujuan perjalanan ke Everest dengan lama perjalanan 2 bulan,

Agen Adventures International meminta bayaran 100 000 US Dolar, itu tidak termasuk penerbangan ke/dari Nepal, biaya akomodasi di Kathmandu, peralatan pribadi, visa, pajak bandara, asuransi rescue helikopter, dan juga kelebihan bagasi mahal?, yah begitulah!.

 

            Dan mungkin anda juga ingin tahu berapa besar biaya jika ingin ke carstensz pyramid yang ada di Papua sana?, well, walaupun dekat (setidaknya cuma satu jengkal di peta) ternyata biayanya lumayan juga. Agen Alpen Ascent International menetapkan harga 9500 US Dolar, nah yang ini juga tidak termasuk, transportasi Jakarta-Wamena, kelebihan bagasi dan pajak bandara, peralatan pribadi, tip, biaya akomodasi di Wamena, biaya akibat penundaan di luar kontrol penyelenggara.

 

            Salah seorang pakar gunung di Indonesia Muhamad Gunawan atau biasa disebut Ogun mengatakan bahwa komersialisasi di bidang adventure adalah hal yang biasa, Ogun yang juga anggota Wanadri ini juga mengatakan bahwa mendaki ke Everest dengan modal nekat agar biaya bisa ditekan adalah hal yang sangat bodoh, Ogun memang pernah dua kali mendaki Everest  sebelumnya. Pada kesempatan pertama ia bergabung dengan tim dari Jerman sementara pada percobaan kedua bersama tim Kopassus. Di dua kesempatan itu, jasa dari agen pemandu internasional memang tidak bisa dilepaskan. waktu pertama saya ambil paket 25 000 US dolar itu memang yang cukup murah. Toh ia juga mengakui bahwa besar-kecilnya harga paket yang ditawarkan juga ikut mempengaruhi kesempatan untuk melakukan Summit Attack.

 

Ogun juga mengatakan Kalau ambil paket yang mahal, seorang pendaki bisa didampingi tiga pemandu, jadi kesempatan untuk mencapai puncak dapat lebih tinggi, kasarnya kalau perlu diseret biar sampai puncak!. Hebatnya, tidak cuma memandu saja yang bisa dijadikan uang, jalur pun bisa dikomersialkan disana. Ogun mengatakan jika ingin memakai jalur yang sudah tersedia kita harus menyewa. bisa saja kita sembunyi-sembunyi, tapi kalau ketahuan bisa ditegur dan reputasi kita dan bahkan negara sudah pasti jatuh.

 

            Bagaimana dengan gunung-gunung lain yang ada di Indonesia?, bersyukurlah karena tingkat komersialisasi di wilayah lain di Indonesia masih cukup normal, asal tahu aja mulai banyaknya hiker-hiker asing yang datang ke  Indonesia khususnya di pulau Jawa karena mereka mulai menyadari bahwa segala hal yang menyangkut gunung di Indonesia ternyata masih cukup murah (setidaknya begitulah menurut anggapan mereka).

 

            Lalu dengan komersialisasi petualangan seperti itu, berkurangkah nilai-nilai dari petualangan itu sendiri?, sepertinya tidak juga, buat para hiker sejati hal-hal seperti ini hanyalah sebuah pilihan belaka, masalah kepuasan dikembalikan ke diri masing masing.